Jumat, 25 Mei 2012
Kamis, 24 Mei 2012
Jumat, 20 April 2012
RSJ TAMPAN MENJADI PUSAT KEGIATAN BAKTI SOSIAL PADA HUT PPNI 38
Sabtu pagi tepatnya tanggal 10 Maret 2012, PPNI Pekanbaru mengadakan Bakti Sosial di RSJ Tampan. Kegiatan ini merupakan rangkaian perayaan HUT PPNI Ke 38. Bakti Sosial kali ini berupa kunjungan Pengurus PPNI Pekanbaru dan donor darah.
Pada kunjungan PPNI Pekanbaru, peserta disuguhkan dengan penampilan seni bertempat di Aula Rehabilitasi RSJ Tampan. Genderang kompang dan rebana mengiringi nyanyian pasien—pasien RSJ Tampan. Bahkan direktur Utama RSJ Tampan ikut bersama menyanyikan lagu “Lancang Kuning” ditempat duduknya. Aksi kreatif pasien lainnya, berbalas pantun membuat suasana semakin semarak. Hadir pada kegiatan tersebut Pengurus PPNI Pekanbaru, perawat, mahasiswa keperawatan, jajaran direksi dan pejabat eselon III dan IV RSJ Tampan.
Pada sambutannya, Direktur Utama RSJ Tampan menyambut positif kegiatan ini dan mengucapkan selamat HUT PPNI buat perawat di Indonesia. Selain itu, perlunya organisasi profesi termasuk PPNI meningkatkan kepedulian kepada masyarakat. Pada akhir kunjungan, PPNI Pekanbaru menyerahkan bingkisan secara simbolis buat pasien RSJ Tampan.
Setelah itu, bakti sosial dilanjutkan dengan kegiatan donor darah. Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan PMI Pekanbaru bertempat di gedung Shaleh Hasyim RSJ Tampan. Sekitar ratusan peserta donor darah tampak antusias dan menyumbangkan darahnya pada kegiatan tersebut. Diharapkan dengan adanya kegiatan bakti sosial ini dapat meningkatkan kepedulian perawat terhadap masyarakat.
RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PROVINSI RIAU DAN PSIK UR MEMBENTUK KELURAHAN SIAGA SEHAT JIWA
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau (PSIK-UR) bekerja sama dengan Rumah Sakit Jiwa Tampan, Puskesmas dan Kelurahan Simpang Baru membentuk Kelurahan Siaga Sehat Jiwa atau disingkat KSSJ. Pembentukan KSSJ bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait masalah kesehatan jiwa dan menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam mencapai hidup sehat baik fisik maupun kejiwaan.
Pembentukan KSSJ di Kelurahan Simpang Baru ini merupakan yang pertama di Kota Pekanbaru yang diprakarsai oleh TIM dosen Keperawatan Jiwa PSIK-UR yaitu Ns.Jumaini, M.Kep, Sp.Kep. J, Ns. Sri Wahyuni, M.Kep, Sp. Jiwa, dan Veny Elita, SKp, MN(MH). Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan proses praktik profesi Ners Keperawatan Jiwa mahasiswa PSIK UR.
Penentuan wilayah Kelurahan Simpang Baru sebagai kelurahan pertama yang dibina dengan pertimbangan bahwa Universitas Riau dan RSJ Tampan berada dalam wilayah kelurahan tersebut. Pembentukan KSSJ mengacu pada Paradigma Pembangunan Kesehatan Jiwa dari DEPKES RI, dimana terjadi pergeseran paradigma dari pelayanan berbasis rumah sakit menuju pelayanan yang berbasis komunitas.
Langkah awal pembentukan KSSJ adalah dengan pelaksanaan Pelatihan Kader Kesehatan Jiwa bagi para kader kesehatan dari 16 RW yang ada di wilayah kerja Puskesmas Simpang Baru. Pelatihan Kader ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 8-9 Maret 2012 di aula kantor Kelurahan Simpang Baru. Acara ini mendapat sambutan yang luar biasa dari pihak kecamatan Tampan, Kelurahan dan Puskesmas Simpang Baru. Acara pembukaan dihadiri oleh Lurah Simpang Baru, Dra. Hj. Liswarti; Ketua PSIK-UR, H. Erwin, SKp, M.Kep; Kepala Puskesmas Simpang Baru, dr. Susi Andriyani; Kasi Keperawatan mewakili Direktur RSJ Tampan, Ns. Zaibah, S.Kep; psikiater RSJ Tampan, dr. Andriza, Sp.KJ dan Sekretaris Camat Tampan, Bpk. Abdul Jalil, S.P yang menyampaikan pembukaan sekaligus membuka acara. Bapak Sekcam sangat antusias dengan kegiatan ini dan diharapkan kegiatan ini dapat terus dilakukan secara berkesinambungan. Sedangkan kader yang hadir berjumlah 80 orang. Dari 16 RW di Kelurahan Simpang Baru hanya 3 RW saja yang kadernya berhalangan hadir. Pada penutupan acara, Lurah Simpang Baru, ibu Dra. Hj. Liswarti berpesan bahwa diharapkan kegiatan ini dapat terus dilaksanakan dan kepada para kader ibu Liswarti menyampaikan rasa bangganya dengan aktifnya para ibu kader selama pelatihan.
Dikutip dari Buletin Perawat Edisi 13 , April 2012
Jumat, 02 Maret 2012
WASPADAI PASIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI
Akhir-akhir ini beberapa pasien kronis yang sudah dirawat berbulan-bulan dan tidak pernah dikunjungi oleh keluarga menunjukkan sikap keputusasaan dan mencoba mengancam akan mengakhiri kehidupannya. Perawatan dan terapi yang sudah maksimal diberikan seolah tidak berpengaruh bagi pasien. Mereka butuh dukungan dari keluarga. Hal ini menjadi suatu fenomena yang harus ditanggapi secara serius.
Dari hasil penelitian Mustikasari, SKp. MARS (2004), dikatakan bahwa Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Penelitian Black dan Winokur (1990) bahwa lebih dari 90% tiap menit individu yang mengalami gangguan jiwa melakukan bunuh diri (Stuart dan Laraia, 1998). Dan lebih dari 90% orang dewasa dengan gangguan jiwa mengakhiri hidup dengan bunuh diri (Stuart dan Sundeen, 1995).
Selain itu, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 bahwa 185 dari 1000 anggota rumah tangga mengalami gangguan jiwa dengan angka bunuh diri 1,6 sampai dengan 1,8 per 100.000 penduduk (Panggabean, 2003). Sedangkan penelitian yang dilakukan Westa (1996) bahwa percobaan bunuh diri di UGD RS Sanglah Bali pada individu gangguan jiwa terbanyak adalah dewasa muda, wanita dan alat yang digunakan untuk usaha bunuh diri adalah zat pembasmi serangga.
Alasan individu mengakhiri kehidupan adalah: 1) Kegagalan untuk beradaptasi,
2) Perasaan terisolasi,
3) Perasaan marah/ bermusuhan,
4) Cara untuk mengakhiri keputusasaan,
5) Tangisan minta tolong.
Selain itu adanya stigma masyarakat bahwa kecendrungan bunuh diri adalah karena keturunan. Dimana individu tersebut oleh masyarakat sudah dicap dan tidak perlu ditolong. Penyebab perilaku bunuh diri pada individu gangguan jiwa karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah (Keliat, 1993).
Pasien yang bagaimanakah yang harus diwaspadai oleh perawat?
Bila pasien menunjukkan:
1. Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan: “Tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya”.
Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/ Marah/ putus asa/ tidak berdaya. Pasien juga mengungkapkan hal - hal negatif tentang diri sendiri.
2. Ancaman bunuh diri
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana tersebut.
Secara aktif pasien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri.
3. Percobaan bunuh diri
Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
Apa yang harus dilakukan oleh perawat?
1. Perlunya kewaspadaan dan penanganan secara intensif pada klien perilaku mencederai diri: bunuh diri, yaitu perlindungan bagi klien (menjauhkan dari benda-benda yang memudahkan klien untuk bunuh diri).
2. Perlunya peningkatan pengetahuan dan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien bunuh diri.
3. Perlunya meningkatkan dukungan sosial seperti keluarga, teman dekat dan lainnya.
4. Dokumentasikan setiap respon pasien dan asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
Rabu, 29 Februari 2012
PERAN DAN KONTRIBUSI ORGANISASI PROFESI IKATAN PERAWAT KESEHATAN JIWA INDONESIA (IPKJI) DALAM PENGEMBANGAN PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PROVINSI RIAU.
IKATAN PERAWAT KESEHATAN JIWA
INDONESIA (IPKJI) PROVINSI RIAU
PERAN DAN KONTRIBUSI ORGANISASI PROFESI IKATAN PERAWAT KESEHATAN JIWA INDONESIA (IPKJI) DALAM PENGEMBANGAN PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PROVINSI RIAU.
A. PERAN IPKJI :
1. Advokasi pelayanan keperawatan jiwa terhadap klien gangguan jiwa dan keluarganya.
2. Advokasi terhadap pihak manajemen RSJ. Tampan tentang fasilitas dan peralatan perawatan klien gangguan jiwa yang manusiawi, menghormati harkat dan martabat klien sebagai seorang manusia sejak tahun 2006.
3. Advokasi pada pihak manajemen RSJ.Tampan tentang kualitas, kuantitas dan kesejahteraan tenaga keperawatan sejak tahun 2005.
4. Mengkoordinasikan dan melakukan sinergi antara Intitusi Perguruan Tinggi Keperawatan dengan standar Pelayanan Keperawatan di RSJ. Tampan.
B. KONTRIBUSI IPKJI :
- Mengusulkan dan mengembangkan metode pelayanan keperawatan jiwa di rawat inap dengan metote MPKP sejak tahun 2005.
- Mengusulkan dan mengembangkan alur pelayanan di RSJ. Tampan sesuai kondisi (tingkat ketergantungan) klien dari saat masuk RS sampai pulang.
- Mengusulkan pembentukan UPIP sebagai tempat perawatan klien dalam kondisi akut dan sub akut sesuai standar sehingga tidak melanggar HAM pada klien sejak tahun 2008.
- Mengusulkan dan mengembangkan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa masyarakat (CMHN) di Provinsi Riau sejak tahun 2010.
- Mengusulkan kepada Pimpinan RSJ. Tampan wilayah Kecamatan Tampan sebagai wilayah binaan keperawatan kesehatan jiwa masyarakat (CMHN) di kota Pekanbaru dengan bekerjasama dengan PSIK Universitas Riau dan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dimulai tahun 2012.
- Mengusulkan anggaran peningkatan kualitas SDM keperawatan sesuai jenis pelayanan keperawatan yang di kembangkan oleh IPKJI baik di RSJ.Tampan maupun berbasis masyarakat sejak tahun 2005.
- Melakukan pengendalian mutu pelayanan keperawatan yang telah dikembangkan baik di RSJ. Tampan maupun di masyarakat.
KETUA PW-IPKJI PROV. RIAU
DTO
Ns. Syaparuddin Daud, S.Kep, MM
Langganan:
Postingan (Atom)