Senin, 02 Januari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN WAHAM


PENGKAJIAN

1.   Pengertian
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan.

2.  Tanda dan Gejala waham adalah :
Untuk mendapatkan data waham saudara harus melakukan observasi terhadap perilaku berikut ini:
a.  Waham kebesaran
      Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan  
      berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
      Contoh: “Saya ini pejabat di departemen kesehatan lho..” atau “Saya
                     punya tambang emas”
b.   Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha    merugikan/mecederai dirinya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
      Contoh: “Saya tahu..seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup
                    saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya”
c.       Waham agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan
Contoh: “Kalau saya mau masuk surga saya harus menggunakan pakaian 
                putih setiap hari”
d.      Waham somatik
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/terserang penyakit, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Saya sakit kanker”, setelah pemeriksaan laboratorium tidak
               ditemukan tanda-tanda kanker namun pasien terus mengatakan
               bahwa ia terserang kanker.

e.       Waham nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal,diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Ini khan alam kubur ya, semua yang ada disini adalah roh-roh”

Berikut ini beberapa contoh pertanyaan yang dapat saudara gunakan sebagai panduan untuk mengkaji pasien dengan waham :
“Assalamualaikum bang B, bagaimana perasaannya saat ini? Bagus!”

1.      Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan menetap?
2.      Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
3.      Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda disekitarnya aneh dan tidak nyata?
4.      Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada diluar tubuhnya?
5.      Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
6.      Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain atau kekuatan dari luar?
7.      Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lainnya atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya?
Selama pengkajian saudara harus mendengarkan dan memperhatikan semua informasi yang diberikan oleh pasien tentang wahamnya.
 Untuk mempertahankan hubungan saling percaya yang telah terbina jangan menyangkal, menolak, atau menerima keyakinan pasien.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data yang diperoleh ditetapkan diagnosa keperawatan:
GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM
                        

TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Tindakan keperawatan untuk pasien
  a.      Tujuan
1)            Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
2)            Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
3)            Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan
4)            Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
b.Tindakan
1)            Bina hubungan saling percaya
Sebelum memulai mengkaji pasien dengan waham, saudara harus membina hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:
a). Mengucapkan salam terapeutik
b). Berjabat tangan
c). Menjelaskan tujuan interaksi
d). Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien.
2)            Bantu orientasi realita
a)      Tidak mendukung atau membantah waham pasien
b)      Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman
c)      Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari
d)     Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya dengarkan tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien berhenti membicarakannya
e)      Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan realitas.
3)      Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
4)       Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan        emosional pasien
5)      Berdikusi tentang kemampuan positif yang dimiliki
6)      Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki
7)      Berdiskusi tentang obat yang diminum
8)      Melatih minum obat yang benar

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya; mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan; mempraktekkan  pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini
ORIENTASI:
“Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Ani, saya perawat yang dinas pagi ini di ruang melati. Saya dinas dari pk 07-14.00 nanti,  saya yang akan merawat abang hari ini. Nama abang siapa, senangnya dipanggil apa?”
“Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang bang B rasakan sekarang?”
Berapa lama bang B mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

Dimana enaknya kita berbincang-bincang, bang?”

KERJA:
Saya mengerti bang B merasa bahwa bang B adalah seorang nabi, tapi sulit bagi saya untuk mempercayainya karena setahu saya semua nabi sudah tidak adalagi, bisa kita lanjutkan pembicaraan yang tadi terputus bang?”
“Tampaknya bang B gelisah sekali, bisa abang ceritakan apa yang
bang B rasakan?”
“O... jadi bang B merasa takut nanti diatur-atur oleh orang lain dan tidak punya hak untuk mengatur diri abang sendiri?”
“Siapa menurut bang B yang sering mengatur-atur diri abang?”
“Jadi ibu yang terlalu mengatur-ngatur ya bang, juga kakak dan adik abang yang lain?”
 “Kalau abang sendiri inginnya seperti apa?”
 “O... bagus abang sudah punya rencana dan jadual untuk diri sendiri”
“Coba kita tuliskan rencana dan jadual tersebut bang”
“Wah..bagus sekali, jadi setiap harinya abang ingin ada kegiatan diluar rumah karena bosan kalau di rumah terus ya”

TERMINASI

Bagaimana perasaan B setelah berbincang-bincang dengan saya?”
”Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus”
“Bagaimana kalau jadual ini abang coba lakukan, setuju bang?”
“Bagaimana kalau saya datang kembali dua jam  lagi?”
”Kita bercakap-cakap tentang kemampuan yang pernah Abang miliki? Mau di mana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini lagi?”

SP 2 Pasien: Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu mempraktekkannya

ORIENTASI

“Assalamualaikum bang B, bagaimana perasaannya saat ini? Bagus!”
“Apakah bang B sudah mengingat-ingat apa saja hobi atau kegemaran abang?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang tentang hobi bang B tersebut?”
“Berapa lama bang B mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit tentang hal tersebut?”
 KERJA
“Apa saja hobby abang? Saya catat ya Bang, terus apa lagi?”
“Wah.., rupanya bang B pandai main volley ya, tidak semua orang bisa bermain volley seperti itu  lho B”(atau yang lain sesuai yang diucapkan pasien).
“Bisa bang B ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar main volley, siapa yang dulu mengajarkannya kepada bang B, dimana?”
“Bisa bang B peragakan kepada saya bagaimana bermain volley yang baik  itu?”
“Wah..baik sekali permainannya”
“Coba kita buat jadual untuk kemampuan bang B ini ya, berapa kali sehari/seminggu bang B mau bermain volley?”
“Apa yang bang B harapkan dari kemampuan bermain volley ini?”
“Ada tidak hobi atau kemampuan bang B yang lain selain bermain volley?”

 TERMINASI

“Bagaimana perasaan bang B setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan kemampuan abang?”
“Setelah ini coba bang B lakukan latihan volley sesuai dengan jadual yang telah kita buat ya?”
 “Besok kita ketemu lagi ya bang?”
“Bagaimana kalau nanti sebelum makan siang? Di kamar makan saja, ya setuju?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus bang B minum, setuju?”

SP 3 Pasien :Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar

Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

ORIENTASI

“Assalamualaikum bang B.”
“Bagaimana bang sudah dicoba latihan volleynya? Bagus sekali” 
“Sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang obat yang bang B minum?”
“Dimana kita mau berbicara? Di kamar makan?”
“Berapa lama bang B mau kita berbicara? 20 atau 30 menit?
 KERJA
 “Bang B berapa macam obat yang diminum/ Jam berapa saja obat diminum?”
“ Bang B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang,   tidurnya juga tenang”
“Obatnya ada tiga macam bang, yang warnanya oranye  namanya CPZ gunanya agar tenang,  yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang  merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7  malam”.
 “Bila nanti setelah minum obat mulut bang B terasa kering,  untuk membantu mengatasinya abang bisa banyak minum  dan mengisap-isap  es batu”.
 “Sebelum minum obat ini bang B dan ibu mengecek dulu label di kotak obat apakah benar nama B tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar”
“Obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi sebaiknya bang B tidak menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter”.
 TERMINASI
“Bagaimana perasaan bang B setelah kita bercakap-cakap
  tentang obat yang bang B minum?. Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat?”
“Mari kita masukkan pada jadual kegiatan abang. Jangan lupa minum obatnya dan nanti saat makan minta sendiri obatnya pada suster”
“Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya Bang!”
“bang, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiatan yang telah dilaksanakan. Bagaimana kalau seperti biasa, jam 10 dan di tempat sama?”
“Sampai besok.”















Sabtu, 17 Desember 2011

IPKJI PROVINSI RIAU DI TANTANG MENJADI TUAN RUMAH KONAS KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA TAHUN 2014

Pada tanggal 17—19 November baru-baru ini, beberapa perawat baik dari RSJ Tampan dan dosen dari Institusi Pendidikan yang ada di Provinsi Riau yang tergabung dalam Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Provinsi Riau  menghadiri  Konfrensi Nasional Keperawatan Kesehatan Jiwa VIII yang diadakan di Bkittinggi, dimana pada Konas kali ini mengusung tema” Comprehensive Psychosocial action among mental health nursing in disaster situation”
  “Tema Keperawatan Jiwa VIII ini sangat sesuai dengan kondisi keterkinian indonesia khususnya Sumatra Barat yang merupakan salah satu derah rawan bencana terkait dengan letak geografisnya” demikian sepenggal kata sambutan yang diberikan oleh Gubernur Sumatra Barat yang hadir untuk membuka acara pada sore tanggal 17 November  tersebut. Selain Gubernur, Konas juga dihadiri oleh walikota Bukittinggi, Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, Direktur Bina Pelayanan Keperawatan Kemenkes RI, Kepala Dinas Propinsi Sumatra Barat, Ketua PPNI Pusat, Ketua PB IPKJI, Direktur RS, Narasumber  serta seluruh peserta konas yang berasal dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. 
 Jadwal Konas sangat padat, berlangsung setiap hari hingga jam 12.00 malam. Malam terkhir sebelum penutupan, seperti biasa dilakukan kegiatan kampanye untuk pemilihan tuan rumah konas ke X untuk tahun 2013. Saat itu IPKJI Riau   langsung ditantang oleh Ibu Budi Anna Keliat untuk tampil. Dengan rasa percaya diri tampillah kedepan 6 orang utusan IPKJI Riau, Ns. Enita, S.Kep; Ns. Triswan, S.Kep; Ns. Adelina, S.Kep;Bp.Erwin, SKP.M.Kes , Ns Rosdiar. Skep dan Ibu Sri Wahyuni, M. Kep, Sp.Kep.J di mana kampanye dipimpin langsung oleh beliau selaku pakar .Keperawatan jiwa di Riau.   
Suasana pada saat kampanye sangat meriah dimana pada akhirnya Riau cukup bangga dengan mendapatkan 19 suara, kalah dari Samarinda yang memang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk ditunjuk menjadi tuan rumah pada konas X tahun 2013 nanti.
Dengan  tampilnya IPKJI Riau Kampanye  Konas untuk tahun 2013 itu artinya kita juga harus sudah memikirkan kemungkinan untuk menjadi tuan rumah pada Konas tahun 2014 atau 2015.
Bagaimana teman-teman. Mari bersiap untuk kampanye lagi pada Konas IX di Nusa Tenggara Barat tahun 2012.

     


REKOMENDASI KONAS KEPERAWATAN JIWA VIII DI BUKIT TINGGI

REKOMENDASI KONAS KEPERAWATAN JIWA VIII

Pada hari ini Jumat, 18 November 2011 bertempat di Hotel The Hills  Bukititnggi, kami; peserta Konferensi Nasional Keperawatan Jiwa VIII yang berjumlah 199 orang, dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan, pendidikan, dan penelitian dalam bidang keperawatan jiwa, merekomendasi hal-hal sebagai berikut:

A.    PELAYANAN KEPERAWATAN
1.      Rumah Sakit Jiwa yang belum menerapkan Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) segera menerapkan selambat - lambatnya pada tahun 2015 sebagai salah satu  indikator kualitas pelayanan kesehatan rumah sakit jiwa seperti yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan  sebagai standar pelayanan mutu Rumah Sakit Jiwa.
2.      Rumah sakit jiwa yang sudah menerapkan MPKP diharapkan melaporkan perkembangan MPKP selambat-lambatnya pada Konas keperawatan jiwa tahun 2012.
3.      Memfasilitasi pengembangan CLMHN di rumah sakit umum mulai tahun 2012 melalui advokasi kepada stakeholder.
4.      Optimalisasi  peran keperawatan di kesehatan jiwa masyarakat  melalui peningkatan kompetensi perawat di unit pelayanan kesehatan jiwa masyarakat
5.      Mendorong  pengembangan Pelayanan Intensive Care Unit (PICU) dan poliklinik keperawatan jiwa serta perawatan HIV/AIDS di rumah sakit jiwa yang akan dievaluasi pelaksanaannya dalam waktu 2 tahun ke depan.
6.      Menyikapi kondisi bencana yang sering terjadi di Indonesia saat ini perlu dibentuk  Tim Penanggulangan Kesehatan Jiwa Bencana melalui advokasi organisasi profesi (PPNI dan IPKJI) ke Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
7.      Revitalisasi DSSJ yang ada dan mendorong pembentukan DSSJ di wilayah – wilayah yang rentan masalah kesehatan jiwa dengan mengadvokasi Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten untuk mengembangkan desa siaga sehat jiwa.
8.      IPKJI dan PPNI mendorong pemberdayaan lulusan spesialis keperawatan jiwa agar dapat berkontribusi secara optimal dalam pelayanan kesehatan jiwa kepada masyarakat baik di institusi pelayanan kesehatan dan komunitas.
  1. Pembentukan kelompok kerja dibawah koordinasi IPKJI untuk menganalisis serta mengembangkan standar asuhan dan terapi keperawatan jiwa pada tahap generalis dan spesialis.

B.     PENDIDIKAN KEPERAWATAN
1.      Perlunya kajian kurikulum  berbasis  kompetensi untuk penerapan mata kuliah keperawatan jiwa bagi dosen pada strata pendidikan D3 dan S1 keperawatan melalui advokasi organisasi profesi ke AIPNI dan AIPDIKI.
2.      Peningkatan kemampuan/kompetensi dosen dan Clinical Educator dalam kegiatan pembelajaran keperawatan melalui pelatihan – pelatihan terstandar.
3.      Penyusunan standar  kompetensi  dosen  dan CE keperawatan  jiwa  tiap strata  pendidikan melalui kerjasama organisasi profesi dan organisasi pendidikan dan pemerintah.
4.      Dibentuknya  forum komunikasi antara pendidik dan praktisi keperawatan jiwa tingkat regional dan nasional yang difasilitasi oleh IPKJI.
5.      Pengkawalan pengembangan metode pembelajaran dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi di level D III Keperawatan dan S-1 Keperawatan oleh organisasi profesi (PPNI dan IPKJI).

C.    PENELITIAN KEPERAWATAN
1.      Terlaksananya peningkatan kemampuan meneliti perawat jiwa di pelayanan maupun pendidikan melalui kegiatan - kegiatan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan penelitian
2.      IPKJI wilayah mensosialisasi pohon penelitian, yang terdiri dari: area asuhan keperawatan jiwa, manajemen keperawatan, terapi modalitas, dan konsep keperawatan.
3.      IPKJI wilayah mengumpulkan data dasar penelitian keperawatan jiwa, baik dalam bidang pendidikan maupun pelayanan.
4.      IPKJI wilayah memfasilitasi terbentuknya pokja penelitian di institusi pendidikan dan pelayanan  tiap-tiap provinsi.
5.      IPKJI Pusat mendorong percepatan terbentuknya jejaring melalui milis untuk menginformasikan sumber dana dan tema-tema penelitian.
6.      IPKJI Pusat memfasilitasi penyebaran hasil penelitian keperawatan jiwa untuk diaplikasikan di tiap wilayah.
7.      IPKJI Pusat mensosialisasikan contact person individu yang bertanggung jawab untuk  membantu memfasilitasi, menampung, menyebarkan hasil penelitian. Sehingga pada saat konas selanjutnya individu yang ada pada kelompok tersebut walaupun berubah tetapi mengetahui tanggung jawab pada tiap provinsi masing-masing untuk bidang penelitian.
8.      IPKJI Pusat mendorong percepatan pembentukan website, jurnal dan mempublikasikan hasil penelitian melalui jurnal, website atau media komunikasi lainnya.

 Bukittinggi,  18 November 2011
Tim Perumus Rekomendasi Konas  VIII
1.            Dr Budi Anna Keliat, SKp, MAppSc, Ketua
2.            Akemat, SKp, MKes, Sekretaris
3.            Novy Helena, CD, SKp, MSc, Anggota
4.            Widya Lolita, SKp, MKep, Anggota
5.            Indriana R, SKp, MSc, Anggota
6.            Basmanelly, MKep, Sp. Kep.J, Anggota
7.            Wahyu Kirana, MKep, Sp. Kep.J, Anggota
8.            Syarniah, M.Kep. Sp.Kep.J., Anggota
9.            Walter, M.Kep. Sp.Kep.J. Anggota
10.        Dewi Eka Putri, M.Kep. Sp.Kep.J., Anggota
11.        Drs. I Dewa Made Ruspawan, S.Kp., M.Biomed, Anggota
12.        Atih Rahayuningsih, M.Kep. Sp.Kep.J., Anggota
13.        Anang Wiyono, S.Kp, Anggota


Minggu, 16 Oktober 2011

MENGENAL UNIT PERAWATAN INTENSIF PSIKIATRI (UPIP) RS JIWA TAMPAN

Unit perawatan intensif psikiatri (UPIP)adalah suatu unit yang memberikan perawatan khusus kepada pasien-pasien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan pengawasan ketat. Di beberapa negara unit ini diterjemahkan sebagai unit kedaruratan ataupun unit akut yang pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu merawat pasien-pasien yang berada dalam kondisi membutuhkan intervensi segera. Pasien dengan kondisi ini adalah pasien-pasien dalam kondisi dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, seperti pasien dengan usaha bunuh diri, halusinasi, perilaku kekerasan, NAPZA, dan  waham.

Di Indonesia, istilah yang digunakan  adalah intensif karena merujuk kepada tindakan yang dilakukan kepada pasien, sedangkan istilah kedaruratan lebih merujuk kepada kondisi pasien. Sehingga pada situasi darurat pasien membutuhkan intervensi segera untuk mencegah situasi yang lebih buruk.

Untuk dapat dikatakan sebagai suatu kedaruratan situasi tersebut harus memiliki kriteria berikut:
· Ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan
· Telah menyebabkan kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, kerusakan harta benda dan lingkungan
· Memiliki kecenderungan peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan, kesehatan,  harta benda atau lingkungan

Adapun skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kedaruratan pasien adalah skala GAF (General Adaptive Function) dengan rentang skor 1 – 30 skala GAF. Kondisi pasien dikaji setiap shift dengan menggunakan skor GAF. (tambahkan penjelasan ttg aksis V, sbr Stuart n Larai, 2005).
Pada keperawatan kategori pasien dibuat dengan skor RUFA (Respons Umum Fungsi Adaptif)/ GAFR (General Adaptive Function Response)  yang merupakan modifikasi dari skor GAF karena keperawatan menggunakan pendekatan respons manusia dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan fungsi respons yang adaptif. Keperawatan meyakini bahwa kondisi manusia selalu bergerak pada rentang adaptif dan maladaptif. Ada saat individu tersebut berada pada titik yang paling adaptif , namun di saat lain individu yang sama dapat berada pada titik yang paling maladaptif. Kondisi   adaptif dan maladaptif ini dapat dilihat atau diukur dari respons yang ditampilkan. Dari respons ini kemudian dirumuskan diagnosa Skor RUFA  dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien. Sehingga setiap diagnosa keperawatan memiliki kriteria skor RUFA  tersendiri.

Pada UPIP tindakan-tindakan intensif  dikategorikan berdasarkan tinggi rendahnya level kedaruratan yang dialami pasien. Secara umum ada tiga fase tindakan intensif bagi pasien yaitu: fase intensif I, II, dan III

· Fase intensif I (24 jam pertama)
Prinsip tindakan
:  life saving, Mencegah cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan
Indikasi
: Pasien dengan skor 1-10 RUFA
Intervensi
:  observasi ketat, KDM, Terapi modalitas : terapi music
· Fase intensif II (24-72 jam pertama)
Prinsip tindakan
:  observasi lanjutan dari fase krisis (intensif I),  mempertahankan pencegahan cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan
Indikasi
: Pasien dengan skor 11-20 RUFA
Intervensi
:  observasi frekuensi dan intensitas yang lebih rendah dari fase intensif I,  terapi modalitas : terapi music dan olah raga
· Fase intensif III (72 jam-10 hari)
Prinsip tindakan
:  observasi lanjutan dari fase akut (intensif II),  memfasilitasi perawatan mandiri pasien
Indikasi
: Pasien dengan skor 21-30 RUFA
Intervensi
:  observasi dilakukan secara minimal, pasien lebih banyak melakukan aktivitas secara mandiri,  terapi modalitas : terapi music, terapi olah raga, life skill therapy.

UPIP  RS Jiwa Tampan

UPIP RS JIwa Tampan di buka pada februari 2010. Jumlah rata-rata pasien yang masuk ke ruang UPIP hingga sekarang  65 orang/ bulan. Kapasitas tempat tidur 21 TT

Ketenagaan di UPIP terdiri dari:
1 orang Dokter Spesialis Jiwa, 1 Dokter Umum, 14 0rang perawat dan tenaga Satpam yang membantu mengamankan pasien dengan kondisi amuk.

Adapun pola penanganan di UPIP menggunakan pendekatan MPKP yang terdiri dari empat pilar yaitu : 
1. Pendekatan manajemen,
2. Compensatory reward,
3. Hubungan profesional,
4. Manajemen asuhan keperawatan




Jumat, 07 Oktober 2011

MENGAPA PASIEN SKIZOFRENIA SUKA MEROKOK?

Sering kita bertanya kenapa sih...pasien dengan gangguan jiwa kok suka merokok?..., bahkan ada yang kalau tidak dapat rokok...langsung marah-marah dan melakukan perilaku kekerasan.

Pasien-pasien gangguan kesehatan jiwa merupakan salah satu populasi tertinggi berhubungan dengan ketergantungan pada nikotin. Sekitar 50 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatri diketahui merokok sehari-harinya.
Sekitar 90 persen pasien skizofrenia juga merokok dan 70 persen pasien dengan gangguan bipolar juga merokok dalam kehidupan sehari harinya. Rokok juga erat dengan penggunaan zat adiktif lainnya. Dikatakan hampir 70 persen pengguna zat adiktif (alkohol, amfetamin, kokain dll) juga merokok.
Data mengatakan bahwa pasien dengan gangguan depresi dan gangguan cemas lebih sulit berhasil untuk berhenti merokok daripada yang tidak.

Teori Dasar
1. Teori keseimbangan dopamin (DA) dan asetilkolin (ACh). Dalam keadaan normal, terdapat keseimbangan antara neurotransmiter (NT) DA dan ACh. Bila diibaratkan timbangan maka terdapat keseimbangan antara bagian kiri dan kanan, tidak ada bagian yang satu melebihi bagian yang lain.

2. Pada gangguan skizofrenia terdapat ketidakseimbangan timbangan tersebut. Pada gangguan ini terdapat hiperaktivitas NT DA (jumlah DA yang sangat berlebihan sehingga menimbulkan gejala-gejala positif). Sedangkan kadar ACh menurun dibandingkan dengan DA.

Mengapa penderita skizofrenia merokok?
1. Teori Konvensional. Dikatakan bahwa kebiasaan menghisap rokok pada penderita skizofrenia berkaitan dengan penurunan gejala parkinsonisme yang diakibatkan oleh pengobatan dengan obat antipsikotik. Kemungkinan karena aktivasi neuron DA tergantung pada nikotin.

2. Teori Mutakhir. Dikatakan bahwa pada penderita skizofrenia terjadi penurunan reseptor nikotin. Mengapa terjadi penurunan? Hal itu disebabkan kadar ACh yang berkurang sebagai akibat relatif dari kadar DA yang berlebihan (hiperaktivitas DA-ergik). Dalam hal ini NT yang terkait adalah alpha-7 nicotinic receptor. Reseptor alfa-7 ini terdapat baik pada prasinaps maupun pascasinaps neuron glutamat. Dengan merokok berarti meningkatkan kadar nikotin, artinya
    merangsang reseptor nikotin alfa-7 untuk bertambah banyak. Neuron prasinaps diaktivasi oleh nikotin sehingga mengeluarkan dalam jumlah besar berbagai macam NT yang pada akhirnya menyebabkan perubahan gene expression. Secara klinis menimbulkan rasa kenyamanan pada penderita skizofrenia.

3. Teori Lain. Antara lain teori pada pemakaian clozapin dan teori sitokrom P-450 isoenzim IA2.